" Kepada seluruh anggota MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Malang, yang ingin bergabung untuk bisa memposting artikel dipersilahkan mengirim email sebagai permintaan ke alamat email mgmpbinsmpkabmalang@gmail.com, untuk pembaharuan. Selanjutnya buka email Anda. Terima kasih (admin)

ARTIKEL PTK


PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN
DENGAN STRATEGI COPY THE MASTER MELALUI MEDIA AUDIOVISUAL PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 2 DAMPIT


Anis Widyastuti


Abstrak: Menulis cerpen adalah kompetensi dasar yang harus diajarkan di SMP. Penelitian ini didasarkan pada rendahnya kemampuan siswa SMP Negeri 2 Dampit dalam menulis cerpen. Hal ini disebabkan karena ketidakefektifan pembelajaran. Ketidakefektifan pembelajaran ini bisa disebabkan karena pemilihan strategi dan media yang tidak tepat dalam pembelajaran menulis cerpen. Strategi copy the master melalui media audiovisual dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran menulis cerpen karena strategi ini memberikan ide kepada siswa untuk menemukan dan memulai kegiatan menulis cerpen. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya peningkatan pembelajaran menulis cerpen. Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis puisi dapat dilihat dari peningkatan proses dan hasil pembelajaran menulis cerpen.

Kata kunci: menulis cerpen,  strategi copy  the master, media, audiovisual


PENDAHULUAN
Pembelajaran menulis cerita pendek (cerpen) penting bagi siswa sekolah menengah pertama, karena cerpen dapat dijadikan sebagai sarana untuk berimajinasi dan menuangkan pikiran. Menurut Widyamartaya (2005:102) menulis cerpen ialah menulis tentang sebuah peristiwa atau kejadian pokok. Selain itu, menurut Widyamartaya (2005:96) menulis cerpen merupakan dunia alternatif pengarang. Sedangkan Sumardjo (2001:84) berpendapat bahwa menulis cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita. Berdasarkan tiga pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis cerpen merupakan seni/keterampilan menyajikan cerita tentang sebuah peristiwa atau kejadian pokok yang dapat dijadikan sebagai dunia alternatif pengarang.
            Kemampuan menulis cerpen yang dimiliki siswa tidaklah sama. Sebagian siswa mampu menulis cerpen dengan baik dan sebagian siswa yang lain masih belum mampu menulis cerpen dengan baik. Kondisi ini diperburuk dengan rendahnya minat menulis siswa. Pendapat tersebut diperkuat oleh pendapat Badudu (dalam Suyono, 2004:5) bahwa keterampilan menulis siswa masih rendah ditandai dengan (1) frekuensi kegiatan menulis yang dilakukan oleh siswa sangat rendah, (2) kualitas karya tulis siswa sangat buruk, (3) rendahnya antusiasme dalam mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia pada umumnya dan pembelajaran menulis pada khususnya, dan (4) rendahnya kreativitas belajara siswa pada saat kegiatan belajar-mengajar menulis.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat melakukan studi pendahuluan di SMP Negeri 2 Dampit diperoleh informasi bahwa kemampuan siswa dalam menulis cerpen masih rendah. Siswa mengalami kesulitan menuangkan pikiran dan perasaannya dalam bentuk cerpen. Tidak sedikit siswa yang mengalami hambatan dalam mengembangkan  keterampilannya menulis cerpen. Hambatan-hambatan tersebut yaitu daya imajinasi siswa masih kurang, diksi yang digunakan dalam menulis cerpen kurang bervariasi, kesulitan menentukan tema, dan kurang dapat mengembangkan ide. Proses belajar mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah-sekolah umumnya berorientasi pada teori dan pengetahuan semata-mata sehingga keterampilan berbahasa khususnya keterampilan menulis kurang dapat perhatian. Ide, gagasan, pikiran, dan perasaan mereka berlalu begitu  saja, tidak diungkapkan khususnya dalam bentuk karya sastra.
Selama ini guru kurang memberi respon  terhadap pelajaran menulis cerpen sehingga sering dilewati tidak  memanfaatkan media yang tersedia, kurang kreatif dalam mengembangkan potensi diri para siswa. Padahal seharusnya pembelajaran menulis cerpen harus mendapat porsi yang cukup karena banyak unsur-unsur yang perlu diketahui dan diajarkan secara terperinci agar siswa lebih  mudah memahaminya. Guru hendaknya dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan secara kreatif menggunakan sarana dan media yang  ada untuk menarik minat siswa, menghargai hasil karya siswa dengan  memberikan penilaian dan pujian seperlunya, menggunakan bermacam-macam metode secara bervariasi  sehingga tujuan dapat tercapai dengan baik.
Keterampilan menulis cerpen yang diajarkan di sekolah-sekolah selama ini
menggunakan metode konvensional. Peran guru amat dominan dalam proses pembelajaran. Siswa kurang aktif  sehingga menimbulkan kebosanan bagi siswa dalam pembelajaran menulis cerpen sehingga karya yang dihasilkan siswa kurang maksimal. Cerpen yang dibuatnya kurang menarik karena bahasa yang digunakan monoton, dan pengembangan ide atau gagasan kurang bervariasi. Hal ini dapat  dilihat dari kesesuaian  isi cerpen dengan tema,  pengembangan topik, dan diksi yang belum mendapat perhatian dari siswa.
Guru sebagai penyampai materi kepada siswa harus dapat menyampaikan  materi yang akan dibahas dengan metode dan media yang tepat dan menarik. Hal  tersebut akan berdampak pada keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran  dan mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Faktor lain yang menyebabkan  rendahnya keinginan siswa menulis cerpen ialah media yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen karena selama ini guru hanya memberikan penjelasan cara-cara menulis cerpen secara teori tanpa adanya media yang digunakan untuk mendukung serta menarik perhatian siswa yang sebenarnya sangat penting disuguhkan untuk meningkatkan kreativitas dan daya imajinasi siswa dalam mengungkapkan perasaan ide-ide yang sebenarnya ada dalam potensi setiap siswa hingga dapat memudahkan mereka untuk bercerita yang akan dituangkan atau disajikan dalam bentuk  tulisan yang nantinya bisa menjadi rangkaian kata-kata yang  sangat indah meski relatif pendek.
Untuk itu perlu adanya upaya untuk mengatasi kondisi tersebut. Guru diharapkan dapat memilih metode yang lebih menekankan pada pembelajaran langsung yang lebih konkret, sehingga kemampuan menulis siswa lebih meningkat. Guru dapat  menerapkan strategi-strategi pembelajaran yang dapat memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif. Strategi tersebut diharapkan dapat membuat siswa mempunyai keyakinan bahwa dirinya mampu belajar, yang dapat memanfaatkan potensi siswa seluas-luasnya.
Salah satu strategi pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran menulis kreatif adalah strategi copy the master. Ide ini diperkuat pendapat bahwa strategi copy the master adalah strategi pemodelan yang dekat dengan calon penulis. Adanya model yang dekat dengan penulis berarti memudahkan penulis untuk memulai kegiatan menulis. Selain itu peneliti menggunakan media audio visual sebagai sarana  untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen.  Dengan menggunakan strategi copy the master ini siswa mendapat pengalaman langsung karena mendapat kesempatan mengamati atau mencermati model tulisan, sehingga pemahaman siswa tentang konsep lebih konkret. Hipotesis tindakan yang diambil adalah dengan menggunakan strategi copy the master pada pengajaran keterampilan menulis, kemampuan menulis anak semakin meningkat.
Strategi copy the master berasal dari bahasa Inggris yang artinya adalah model untuk ditiru. Model yang akan ditiru ini tidak hanya terbatas pada peniruan lateral, namun ada tahap perbaikan. Tahap peniruan sampai dengan perbaikan inilah yang menonjol dalam strategi ini. Pada dasarnya strategi ini menuntut dilakukan latihan-latihan sesuai dengan model yang ditawarkan.
Dalam proses belajar mengajar, media memiliki fungsi yang sangat penting. Secara umum fungsi media adalah sebagai penyalur pesan. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya (Sudjana dan Rivai 2001:2). Selain itu, media pembelajaran dapat menambah efektivitas komunikasi dan interaksi antara pengajar dan pembelajar (Pranggawidagda 2002:145). 
Dengan adanya media audio visual yang menampilkan gambar beserta
suaranya akan mempermudah siswa untuk menangkap informasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan inspirasi maupun gagasan yang akan dituangkan dalam menulis sebuah cerpen. Selain itu proses belajar mengajar akan terasa lebih hidup dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan menggunakan media audio . Pembelajaran menulis cerpen yang  menggunakan media audio kurang maksimal digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen karena penggunaan media audio hanya menampilkan sebuah suara yang kurang memaksimalkan potensi siswa dalam menangkap informasi yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan
inspirasi dan ide-idenya yang akan digunakan untuk menulis sebuah cerpen.
Penelitian mengenai keterampilan menulis banyak dilakukan dengan
menawarkan metode/ media yang bermacam-macam sebagai upaya untuk
meningkatkan keterampilan menulis siswa. Terdapat penelitian-penelitian
yang relevan dengan penelitian ini. Setidaknya relevan dalam hal pemakaian
metode, media maupun desain penelitian. Pemakaian media dan metode pada
setiap penelitian tersebut desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.
Penelitian ini mendeskripsikan seberapa besar peningkatan hasil dan proses pembelajaran menulis cerpen dengan strategi Strategi copy the master melalui Media Audio Visual di kelas IX SMPN 2 Dampit melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat membuka wawasan bagi guru dalam mencari strategi alternatif untuk meningkatkan pembelajaran menulis cerpen.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Rancangan ini sesuai dengan latar permasalahan dan karakteristik penelitian yang dilakukan, yakni (1) masalah penelitian berasal dari persoalan yang terjadi dalam praktik pembelajaran di kelas, yakni kemampuan siswa dalam menulis cerpen yang masih rendah, (2) adanya tindakan untuk memperbaiki permasalahan pembelajaran, yaitu melalui penerapan strategi copy the master (3) adanya kolaborasi dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, serta (4) adanya kegiatan untuk melakukan evaluasi dan refleksi.
Penelitian ini dilakukan di SMPN 2 Dampit. Alasan pemilihan lokasi tersebut dengan mempertimbangkan beberapa alasan. Pertama, SMPN 2 Dampit telah menerapkan kurikulum KTSP 2006 yang di dalamnya mengajarkan menulis cerpen. Kedua, belum pernah dilakukan penelitian sebelumnya mengenai menulis cerpen dengan menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual. Waktu penelitian dilaksanakan pada awal semester I tahun pelajaran 2012/2013. Penentuan waktu ini didasarkan karena kompetensi dasar menulis cerpen diajarkan di kelas IX pada semester pertama.
Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX C  SMPN 2 Dampit. Pemilihan kelas IX C didasarkan pada pertimbangan bahwa (1) tingkat kecerdasan siswa merata mulai dari yang cerdas, sedang, dan kurang, (2) jumlah siswa memadai, (3) guru kelas bersedia berkolaborasi.
Media pembelajaran utama yang digunakan adalah film. Adapun alat-alat yang digunakan untuk menjaring data keberhasilan belajar siswa adalah lembar observasi, dan rubrik penilaian kemampuan menulis cerpen.
            Penentukan  kualifikasi keberhasilan tindakan penelitian memerlukan rambu-rambu. Indikator pada penelitian ini dibuat untuk mendekripsikan dua permasalahan penelitian, yakni permasalahan penelitian proses dan hasil keterampilan menulis cerpen.
Observasi dilakukan oleh peneliti pada saat pembelajaran berlangsung
dengan membuat catatan khusus mengenai perilaku siswa dalam kegiatan menulis
cerpen melalui strategi copy the master melalui media  audio visual. Observasi dipergunakan untuk memperoleh data tentang perilaku  siswa selama pembelajaran berlangsung pada siklus I dan pada siklus II. Peneliti sebelumnya mempersiapkan lembar observasi untuk dijadikan pedoman dalam pengambilan data. Observasi atau pengamatan dilakukan oleh  peneliti, dibantu oleh guru kolaborator.
Data hasil  dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes. Tes
dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada siklus I dan siklus II dengan tujuan untuk
mengukur keterampilan siswa dalam menulis cerpen dengan strategi copy the master melalui media audio visual. Pada hasil tes siklus I dianalisis, dari hasil analisis akan diketahui kelemahan siswa dalam kegiatan  menulis cerpen, yang selanjutnya sebagai dasar untuk menghadapi tes pada siklus  II, yang pada akhirnya setelah dianalisis hasil tes siklus II dapat diketahui  peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui strategi copy the master dengan media audio visual.
Tes yang berupa soal esai menulis cerpen dilaksanakan untuk mengetahui
kemampuan siswa dalam menulis cerpen dengan memperhatikan kriteria-kriteria penilaian yang telah ditentukan.  Kriteria-kriteria penilaian tersebut yakni (1) Tema, (2) Alur, (3) Latar, (4)  Sudut pandang, (5) Gaya Bahasa,  (6) Tokoh dan Penokohan, dan (7) Kepaduan unsur-unsur dalam cerpen.

HASIL
Kemampuan siswa kelas SMP Negeri 2 Dampit dalam menulis cerita pendek rata-rata masih rendah. Dari hasil pengamatan selama peneliti  melakukan observasi masih banyak siswa yang kurang tertarik pada pembelajaran menulis cerpen. Siswa tampak kesulitan dalam menuangkan ide-ide ke dalam bentuk cerpen, hal ini dikarenakan beberapa faktor  yang mempengaruhi seperti penggunaan media dan teknik pembelajaran yang kurang sesuai. Kesulitan-kesulitan siswa juga tampak dari hasil kerja siswa. Hasil yang dicapai siswa masih rendah, hal ini terbukti dari isi cerpen yang tidak sesuai dengan tema atau bahan pengajaran, isi  cerpen tidak sesuai dengan judul, alur yang tidak jelas, konflik dan karakter tokoh yang kurang sesuai. Seperti tampak pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Hasil Tes Kemampuan Menulis Cerita Pendek Pra Tindakan
No.
Kategori
Rentang Nilai
Frekuensi Skor
Bobot
Persen Rata-rata
1
Sangat Baik
85-100



2
Baik
70-84
8
544
20%
3
Cukup
60-69
26
1783
65%
4
Kurang
50-59
6
399
15%
5
Sangat Kurang
0-49



JUMLAH
40
2666
100%
2666 : 40 = 66,65
Siklus I merupakan pemberlakuan awal penelitian dengan strategi copy the master melalui media audio visual. Tindakan siklus ini dilakukan sebagai upaya untuk memperbaiki dan memecahkan masalah yang muncul pada pratindakan. Tahap ini dimulai dengan refleksi awal. Kegiatan yang dilakukan berupa
renungan atau pemikiran hasil dengan guru mata pelajaran Bahasa  Indonesia kelas IX SMP Negeri 2 Dampit. Kegiatan dilanjutkan  dengan perencanaan pembelajaran yang  dilakukan sebagai upaya memecahkan  segala permasalahan yang dilakukan yang telah ditemukan pada refleksi awal, dan  segala hal yang perlu dilakukan pada tahap tindakan. Dengan adanya  perencanaan, tindakan pembelajaran yang dilakukan akan lebih terarah dan  sistematis.
 Langkah-langkah proses perencanaan ini antara lain: (1) menyusun
rencana pelaksanaan pembelajaran yang berisi langkah-langkah yang dilakukan
guru di samping bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implementasi tindakan perbaikan tindakan yang telah direncanakan, (2)
mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, seperti
media pembelajaran dan alat evaluasi, (3) mempersiapkan cara merekam dan
menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan, (4) melakukan
simulasi (bermain peran) pelaksanaan tindakan untuk menguji keterlaksanaan
rancangan,  sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan diri dalam pelaksanaan
yang sebenarnya.
Rencana pembelajaran dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan setiap pertemuan terdiri dari 2 x 40 menit. Tujuan yang ingin dicapai adalah (1) siswa dapat mendeskripsikan tema yang terkandung dalam cerita, (2) siswa dapat menyusun alur cerita, (3) siswa dapat menentukan latar yang sesuai dengan cerita. Siswa dapat menentukan sudut pandang yang sesuai dengan cerita, (4) siswa dapat memilih gaya bahasa yang sesuai dengan cerita, (5) siswa dapat melukiskan tokoh dan watak tokoh yang sesuai dengan cerita, siswa dapat menentukan sudut pandang yang sesuai degan cerita, (7) siswa dapat menyusun cerpen sesuai dengan unsur pembangun cerpen, dan (8) Siswa dapat menyunting cerita pendek.
Pada tahap pendahuluan kegiatan yang dilakukan antara lain (1) Guru bertanya jawab dengan siswa tentang cerpen yang pernah dibaca  dan disukainya (2) Guru menjelaskan  kompetensi dasar yang akan dicapai, dan manfaat yang akan diperoleh dalam  pembelajaran menulis cerpen.
Dari kegiatan stimulus yang bertujuan untuk mengarahkan siswa pada
tujuan pembelajaran yang harus dicapai, siswa merespon kegiatan pendahuluan yang dilakukan oleh guru dengan menjawab pertanyaan mengenai menulis kreatif cerpen. Siswa memiliki pemahaman bahwa untuk menulis cerpen, sebelumnya harus menentukan tema dari cerpen yang akan ditulis. Selain menentukan tema, siswa berpendapat bahwa sebelum menulis cerpen harus membuat kerangka cerpen terlebih dahulu baru kemudian dikembangkan menjadi sebuah cerpen.
Pada kegiatan ini siswa memiliki pemahaman bahwa di dalam sebuah
cerpen terdapat unsur intrinsik yang menjadi unsur pembangun cerpen. Unsur
intrinsik yang disebutkan siswa yang terdapat dalam sebuah cerpen adalah tokoh,
latar, dan waktu. Selain mengetahui unsur intrinsik, siswa mencoba memberikan
pengetahuannya berupa pengertian cerpen. Menurut siswa cerpen merupakan cerita yang pendek. Hal ini menunjukkan bahwa siswa memiliki pemahaman bahwa cerpen adalah cerita yang pendek, tetapi siswa belum memberikan batasan pendek yang dimaksud itu dengan ukuran yang bisa dimengerti.
                   Pada tahap pendahuluan kegiatan yang dilakukan adalah Guru melakukan apersepsi dengan menanyakan dan bagaimana gambaran siswa tentang unsur-unsur instrinsik cerpen dan Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran, serta Siswa dimotivasi bahwa mengarang cerpen menyenangkan.
                   Kegiatan Inti yang dilakukan adalah (1) Guru memberikan contoh sebuah cerpen remaja, (2) Siswa dan guru bertanya jawab tentang unsur-unsur pembangun cerpen, (3) Guru menjelaskan langkah-langkah menulis cerpen dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun cerpen, (4) Guru mengarahkan siswa untuk dapat menemukan ide cerita dan merumuskannya ke dalam tema yang sudah ada dalam film yang telah diputarkan pada pertemuan sebelumnya, (5) Siswa diarahkan untuk menentukan siapa tokoh utamanya, apa masalahnya, siapa tokoh antagonisnya, bagaimana latarnya dari mana awal ceritanya, dan bagaimana cerita ditutup, (6) Berdasarkan unsur instriksik dalam cerita film  siswa diarahkan untuk dapat bermain dengan imajinasinya untuk dapat menyusun kerangka cerpen. (7) berdasarkan kerangka cerpen yang telah dibuat, siswa mengembangkannya menjadi cerpen menjadi cerpen, (8) siswa menulis cerpen dengan memperhatikan contoh cerpen yang diberikan guru, (9) siswa berdiskusi untuk menyunting cerpen yang telah dibuat dengan panduan rubrik yang telah disiapkan oleh guru. dan (10) beberapa siswa membacakan hasil penulisan cerpen di depan kelas.
Penayangan film ini digunakan untuk dikembangkan menjadi sebuah kerangka cerpen. Unsur-unsur yang ada dalam kerangka cerpen meliputi tema; judul; deskripsi karakter tokoh (karakter fisik dan watak); latar cerpen yang berupa latar waktu, latar tempat, dan latar suasana; sudut pandang; dan alur yang terdiri dari pengenalan, pemunculan konflik, klimaks, dan penyelesaian.
Siswa dikondisikan untuk mempersiapkan diri dengan buku catatan untuk
mencatat hal-hal penting dari film yang akan disaksikan  Dalam kegiatan ini siswa terlihat bersemangat. Hal ini menandakan bahwa siswa menjalani kegiatan belajar dengan senang.
Pada kegiatan pramenulis ini suasana kelas tampak kondusif, hal ini tampak pada siswa yang antusias mengerjakan tugas dari guru. Dengan penuh perhatian siswa memperhatikan film yang ditayangkan guru. Setelah siswa menyaksikan film Sang Pemimpi yang ditayangkan, siswa berdiskusi dengan temansebangku untuk bagian adegan dalam film yang digunakan sebagai pengembangan membuat kerangka cerpen. Ketika siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas membuat kerangka cerpen dan memahami film, siswa selalu bertanya kepada guru. Pada kegiatan ini guru berkeliling dan mengingatkan siswa untuk memperhatikan unsur pembangun cerpen dan penggunaan ejaan dan tanda baca.
Pada kegiatan pramenulis ini, siswa membuat kerangka sesuai dengan
film Sang Pemimpi. Dari duapuluh tiga siswa hanya terdapat dua siswa yang masih menggunakan judul film sebagai judul cerpennya. Siswa yang lain telah
mampu mengembangkan judul dengan lebih kreatif sesuai dengan cerpen yang akan dikembangkan. Pada tahap pramenulis ini, media film ini berfungsi memudahkan siswa berimajinasi untuk menemukan tokoh beserta karakternya baik fisik maupun wataknya, menemukan konflik, menemukan latar baik latar tempat, waktu, dan suasana; serta menemukan alur.
Pada tahap menulis, yaitu siswa mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh dan padu sesuai dengan kreativitas dan imajinasi siswa serta mengembangkan peristiwa melalui narasi, deskripsi, monolog, maupun dialog. Pada tahap menulis ini siswa diberikan kebebasan sepenuhnya untuk mengembangkan kerangka cerpen yang telah dibuat, tetapi tetap berdasarkan cerita dalam film untuk membuat kerangka cerpen sebagai dasar imajinasi. Suasana kelas tampak kondusif, hal ini tampak pada siswa yang antusias mengerjakan tugas dari guru. Siswa membaca kembali kerangka cerpen yang telah dibuatnya, kemudian siswa mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh dan padu pada lembar kerja yang telah dipersiapkan oleh guru.
Kegiatan pengembangan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh dan padu pada tahap menulis ini dilakukan siswa secara individu. Pengembangan kerangka cerpen menjadi cerita yang utuh dan padu yang dilakukan pada tahap menulis ini, film membantu siswa berimajinasi sehingga film dapat membantu siswa mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh dan padu. Pada tahap menulis ini juga dilakukan tahap revisi. Siswa merevisi cerpen yang telah selesai dibuatnya.
            Pada tahap pascamenulis meliputi kegiatan penyuntingan dan pemublikasian cerpen dengan cara membacakan cerpen di depan kelas. Kegiatan penyuntingan dilakukan dengan cara siswa saling menukarkan cerpennya kepada teman sebangku, kemudian teman sebangku menyunting cerpen berdasarkan lembar penyuntingan yang telah dipersiapkan oleh guru. Kegiatan penyuntingan bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan komentar yang berupa masukan kepada cerpen milik temannya.
Kegiatan publikasi yang dilakukan dengan membacakan cerpen di depan kelas dapat diketahui bahwa siswa lebih memperhatikan pembacaan cerpen yang dilakukan oleh salah satu siswa. Selain siswa yang membacakan cerpen telah memiliki rasa percaya diri dengan bukti suara siswa saat membacakan sudah lantang dan terdengar hingga bangku belakang. Muka siswa juga tidak ditutup dengan teks cerpen yang dibacanya.  
Dari kegiatan pascamenulis dapat diketahui bahwa pembelajaran menulis kreatif cerpen ini tidak hanya melatihkan siswa untuk pandai menulis tetapi juga aktif dalam keterampilan menyimak, membaca, dan berbicara. Setelah kegiatan publikasi guru melakukan refleksi dengan menanyakan kesulitan yang dialami siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual (film).

PEMBAHASAN
                   Peningkatan proses keterampilan menulis kreatif cerpen meliputi proses peningkatan pada tahap pramenulis, proses peningkatan pada tahap menulis, proses peningkatan pada tahap pascamenulis
 Media yang digunakan adalah film dan lembar kerja siswa untuk membuat kerangka cerpen, menulis cerpen serta lembar penyuntingan. film yang digunakan yaitu  judul Laskar Pelangi. Film tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa film Laskar pelangi tersebut dapat membantu siswa dalam mengembangkan cerita baik dari segi judul, tokoh, latar dan alur; (2) memiliki tokoh, latar, dan alur yang menceritakan tentang sebuah kehidupan manusia, dan (3) menumbuhkan cipta dan rasa dalam diri siswa.
Pada kegiatan pramenulis ini suasana kelas tampak kondusif, hal ini tampak pada siswa yang antusias mengerjakan tugas dari guru. Dengan penuh perhatian siswa memperhatikan film  yang ditayangkan guru. Setelah siswa menyaksikan film yang ditayangkan, siswa berdiskusi dengan teman sebangku untuk memilih adegan yang digunakan sebagai pengembangan membuat kerangka cerpen. Ketika siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas membuat kerangka cerpen dan memahami film, siswa selalu bertanya kepada guru. Pada kegiatan ini guru berkeliling dan mengingatkan siswa untuk memperhatikan unsur pembangun cerpen dan penggunaan ejaan dan tanda baca.
Proses peningkatan keterampilan menulis kreatif cerpen pada tahap menulis suasana kelas tampak kondusif, hal ini tampak pada siswa yang antusias mengerjakan tugas dari guru. Siswa membaca kembali kerangka cerpen yang telah dibuatnya, kemudian siswa mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh dan padu pada lembar kerja yang telah dipersiapkan oleh guru. Kegiatan pengembangan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh dan padu pada tahap menulis ini dilakukan siswa secara individu.
Pengembangan kerangka cerpen menjadi cerita yang utuh dan padu yang dilakukan pada tahap menulis ini, media film membantu siswa berimajinasi sehingga film dapat membantu siswa mengembangkan kerangka cerpen menjadi cerpen yang utuh dan padu. Pada tahap menulis ini juga dilakukan tahap revisi. Siswa merevisi cerpen yang telah selesai dibuatnya.
Dari kegiatan pascamenulis dapat diketahui bahwa pembelajaran menulis kreatif cerpen ini tidak hanya melatihkan siswa untuk pandai menulis tetapi juga aktif dalam keterampilan menyimak, membaca, dan berbicara. Setelah kegiatan publikasi guru melakukan refleksi dengan menanyakan kesulitan yang dialami siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual (film).
Dari data observasi dapat dilihat  terjadinya peningkatan perilaku positif
siswa dalam menulis cerpen. Data tersebut menunjukkan bahwa sebanyak  38
siswa atau sebesar 95% dari jumlah  keseluruhan siswa yang merasa lebih
bersenang hati dalam menulis cerpen. Sisanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 5%
yang kurang bersenang hati dalam menulis cerpen. Hal ini disebabkan siswa
kurang berminat dalam menulis cerpen. Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa  terjadinya  peningkatan perilaku siswa dalam mengikuti proses pembelajaran pada siklus II ini. Perilaku-perilaku negatif siswa dapat dikurangi sehingga pembelajaran ini dapat berhasil.
Peningkatan hasil keterampilan menulis cerpen setelah dilakukan tindakan pada siklus I dan II, diperoleh hasil menulis puisi seperti yang tampak pada tabel berikut.
No.
Nama Siswa
Nilai
Prasiklus
Siklus I
Siklus II
1
WAHYU ANGGA S.
70
80
82
2
AGUNG DENI KRISTIAN
57
75
76
3
AHMAD WAHYU PRATAMA
61
75
77
4
ANGGA ANDI SAPUTRA
55
75
76
5
ANGGA APRILINU
72
79
81
6
ARI INDRAWATI
61
78
83
7
BAGAS PRATAMA GUNAWAN
55
55
78
8
DESI RATNASARI
75
82
88
9
DESY RATNASARI
66
78
80
10
DIAN APRILLIA
76
78
78
11
DIKI RENDI KURNIAWAN
61
76
79
12
DINDA AYU KATARINA
66
77
88
13
DINI KRISTIAN ANJAR
62
64
78
14
EKO PURNOMO
66
78
77
15
EKO SUPRASETYO
73
75
79
16
ELIA IIS ANDRIANI
69
77
76
17
ELOK VERONIKA
67
79
76
18
ERDIN YULIS DIANTORO
61
75
79
19
ERINE MUSTIKA SARI
79
77
88
20
IMROATUL HASANAH
73
75
78
21
INTAN YULIANA
61
61
77
22
KRISTIN RATNASARI
62
75
77
23
LULIS LUSIAWATI
81
81
87
24
MUHAMMAD IRFAN AZIZ
77
77
83
25
NURHASANAH
78
62
80
26
PUJIATI
60
62
78
27
RENALTA PRATAMA
57
60
81
28
RENI ADISTYANINGTYAS
67
75
87
29
RICO FRANSISCO
70
78
78
30
RICKY WAHYU ADI
68
75
81
31
RIRIN INDRIYANI
73
75
76
32
RURI ANTIKA
62
62
78
33
SINGGIH PITONO
56
60
78
34
SIWI HAJA RUKMANA
62
78
80
35
SUGIANTORO
63
76
76
36
SUSANTI AMBARWATI
76
76
87
37
TATOK FEBRIANTO
68
75
78
38
VIVI WIDARTI
78
75
88
39
WAHYU EKO PAMBUDI
63
63
80
40
YULIATIN
59
61
76
Rata-rata
2666
2915
3203
4000
4000
4000
66,65
72,875
80,075

PEMBAHASAN
Peningkatan proses belajar siswa dalam  mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual dapat dilihat berdasarkan hasil observasi selama pembelajaran berlangsung. Sedangkan peningkatan hasil dapat diketahui berdasarkan hasil tes kemampuan menulis cerpen.
Dari hasil observasi dapat dilihat bahwa pada siklus I  siswa belum mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen dengan baik, masih  ada beberapa siswa yang melakukan perilaku negatif walaupun jumlahnya lebih  sedikit daripada siswa yang melakukan perilaku positif dalam mengikuti proses  pembelajaran tersebut. Hal ini dibuktikan dengan data pada hasil observasi siswa yang tercatat ada 10 atau sebesar 25%  dari jumlah keseluruhan siswa yang berbicara dan bercanda dengan temannya pada saat proses pembelajaran menulis cerpen. Sebanyak 6 siswa atau sebesar 15% dari jumlah keseluruhan siswa yang mondar-mandir atau jalan-jalan untuk kepentingan yang tidak jelas pada saat proses pembelajaran berlangsung.  
Pada siklus II sudah ada perubahan perilaku siswa yaitu siswa sudah  mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen dengan baik dan dapat  menciptakan suasana belajar yang nyaman. Siswa  terlihat sangat bersungguh-sungguh dalam mengikuti penjelasan dari  guru, dan mereka sudah lebih aktif  dalam mengikuti pelajaran dibandingkan pada siklus I. Perilaku negatif pada  siklus I, pada siklus II banyak berkurang. Siswa yang melakukan perilaku negatif  berbicara dan bercanda dengan temannya menurun dari 10 siswa atau sebesar  25% dari jumlah keseluruhan siswa menjadi 2 siswa atau sebesar 5% dari  jumlah keseluruhan siswa. Sedangkan siswa yang berjalan-jalan atau mondarmandir pada saat berlangsungnya proses pembelajaran tidak ada. 
Berdasarkan hasil jurnal dari siklus I ke siklus II yaitu siswa semakin
senang terhadap copy the master melalui media audio visual yang
dihadirkan guru (peneliti). Menurut sebagian besar dari jumlah siswa kelas IX SMP Negeri 2 Dampit yang menyatakan bahwa metode tersebut dapat
mempermudah mereka dalam menulis cerpen karena kesulitan-kesulitan yang  mereka hadapi dapat diatasi dengan metode tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara didapatkan hasil bahwa siswa senang dan
tertarik dengan pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual. Siswa juga dapat mengambil manfaat dari pembelajaran  tersebut, siswa semakin tahu banyak  tentang cerpen dan bagaimana menulis  cerpen. Selain itu pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual siswa semakin berminat menulis cerpen.
Berdasarkan hasil dokumen foto siklus  I ke siklus II yaitu siswa semakin
tertib dan aktif dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual. Dari hasil foto
menunjukkan aktivitas saat menulis cerpen pada siklus I, terlihat masih ada siswa
yang melakukan perilaku negatif yaitu bercanda dengan temannya saat proses
belajar di kelas, sedangkan pada siklus II siswa  terlihat sangat serius dalam menulis cerpen. Berdasarkan kedua gambar tersebut  dapat disimpulkan bahwa perilaku negatif siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis cerpen mengalami peningkatan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar menulis cerpen dengan menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual mampu meningkatkan proses keterampilan siswa dalam menulis cerpen. Selain itu, terdapat perubahan perilaku yaitu dari perilaku negatif ke perilaku positif siswa dalam mengikuti proses pembelajaran menulis cerita pendek.
Hasil pratindakan ini dianalisis dan diperoleh sebuah simpulan bahwa keterampilan menulis cerpen masih  rendah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 66,65. Keterampilan siswa dalam menentukan  tema dan amanat, membuat alur, menentukan tokoh dan penokohan, menentukan latar, menggunakan diksi dan gaya bahasa, menentukan sudut pandang,  dan keterpaduan unsur-unsur dalam cerpen termasuk dalam kategori cukup.
            Setelah peneliti melihat kondisi awal  keterampilan siswa menulis cerpen
melalui hasil pratindakan tersebut,  maka peneliti melakukan pembelajaran
menulis cerpen dengan strategi copy the master melalui media audio visual.
Setelah dilakukan pembelajaran menulis cerpen melalui strategi ini pada  siklus I, keterampilan menulis cerpen siswa mengalami peningkatan sebesar 11,94%. Nilai rata-rata yang dicapai pada siklus I sebesar 72,88 yang berarti bahwa  pada siklus I keterampilan menulis cerpen siswa sudah cukup baik.
Meskipun pembelajaran siklus I telah dioptimalkan perencanaan dan pelaksanaannya dengan strategi copy the master melalui media audio visual, namun hasil tes  yang diperoleh siswa pada siklus ini belum memuaskan dan belum memenuhi target. Hal ini karena sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan menulis cerpen terutama dalam mengembangkan ide dari cerita film dan menuangkan ide yang ada dalam pikiran mereka.
            Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan strategi copy the master melalui media audio visual pada siklus II dengan tema yang masih sama, ternyata
kesulitan siswa dalam mengembangkan kerangka cerpen dan mengungkapkan ide
ke dalam sebuah cerpen dapat diatasi. Dan hasil siklus II mengalami peningkatan
dari hasil tes siklus I. Peningkatan keterampilan menulis cerpen dengan strategi copy the master melalui media audio visualdapat dilihat pada tabel di bawah ini
Tabel Perolehan Nilai Rata-Rata dan Peningkatan Keterampilan Menulis
Cerpen pada Pratindakan, Siklus I, dan Siklus II
Aspek
Nilai Rata-rata Kelas
Peningkatan

PT
SI
SII
PT – SI
SI-SII
PT-SII
1
65,00
73,50
77,50
13,08
5,44
19,23
2
67,88
72,75
78,13
7,18
7,39
15,10
3
63,75
72,00
85,00
12,98
18,06
33,33
4
68.7
74,50
79,25
8,36
6,38
15,27
5
68,25
74,25
79,00
8,79
6,40
15,75
6
67,50
71,88
83,75
6,48
16,52
24,07
7
65,00
72,63
78,13
11,73
7,57
20,19
Rata-rata
66.65
72,88
80,08
9,34
9,88
20,14
Keterangan:
PT           = Pratindakan
SI            = Siklus I
SII          = Siklus II
 1             = Tema dan Amanat
2              = Alur
3              = Tokoh dan Penokohan
4              = Latar
5              = Diksi dan Gaya Bahasa
6              = Sudut Pandang
7              = Kepaduan Unsur-unsur Pembangun Cerpen

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa keterampilan siswa setiap aspek
penilaian menulis cerpen mengalami peningkatan. Uraian tabel tersebut dijelaskan
secara rinci sebagai berikut.
 Pada hasil pratindakan, skor rata-rata kelas mencapai 66,65 termasuk
dalam kategori cukup. Skor rata-rata ini  berasal dari jumlah rata-rata masingmasing aspek yang dinilai. Pada pratindakan, perolehan nilai rata-rata kelas aspek tema dan amanat sebesar 65 (termasuk kategori cukup), aspek alur sebesar 67,88 (termasuk cukup), aspek tokoh dan penokohan sebesar 63,75 (termasuk kategori cukup), aspek latar sebesar 68,7 (termasuk kategori cukup), aspek diksi dan gaya bahasa sebesar 68,25 (termasuk  kategori cukup), aspek sudut pandang sebesar 67,50 (termasuk kategori cukup), dan aspek kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen sebesar 65,00 (termasuk kategori cukup).
Keterampilan siswa  dalam menulis cerpen masih rendah disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor  internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini dapat dilihat pada keterampilan  siswa dalam aspek bahasa dan nonkebahasaan yang masih kurang. Hal ini dapat  dilihat pada hasil tes yang belum menunjukkan hasil yang memuaskan (belum  mencapai kategori baik). Adapun faktor eksternal berasal dari pola pembelajaran guru yang masih tradisional dan kurang bervariasi. Pola pembelajaran yang lebih mengutamakan teori, ceramah, monoton, dan terkesan hanya mengejar materi pelajaran tanpa pertimbangan pengalaman yang akan didapatkan siswa dalam pembelajaran.
            Selanjutnya, hasil tes menulis cerpen siklus I dengan rata-rata skor klasikal
mencapai 72,88 dan termasuk kategori cukup. Hasil ini mengalami peningkatan 
sebesar 9,34% dari hasil pratindakan. Meskipun hasil ini sudah mengalami peningkatan, tetapi nilai rata-rata ini belum mencapai target nilai yang telah ditetapkan. Skor ini juga  diperoleh dari penjumlahan tujuh aspek penilaian. Perolehan aspek tema dan amanat sebesar 73,50 (termasuk kategori cukup), aspek alur sebesar 72,75 (termasuk kategori cukup), aspek tokoh dan penokohan sebesar 72,00 (termasuk kategori cukup), aspek latar sebesar 74,50 (termasuk kategori baik), aspek diksi dan gaya bahasa sebesar 74,25 (termasuk kategori cukup), aspek sudut pandang sebesar 71,88 (termasuk kategori cukup), dan aspek kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen sebesar 72,63 (termasuk kategori cukup).
 Nilai pada aspek menulis cerpen siswa kelas IX SMP Negeri 2 Dampit
semua mengalami peningkatan dari hasil pratindakan. Pada aspek tema dan
amanat, siswa sudah bisa mengaplikasikan tema dan amanat berdasarkan tema film yang digunakan sebagai media sudah cukup baik, walaupun ada beberapa siswa yang menyimpang dari tema yang telah ada dalam film. Pada aspek alur siswa sudah banyak mengalami peningkatan  karena alur dalam menulis cerpen
sudah ada, jadi siswa  tidak mengalami kesulitan. Aspek tokoh dan penokohan siswa juga sudah dapat menghadirkan tokoh dengan karakternya yang menarik, namun masih ada beberapa siswa yang belum bisa menghadirkan tokoh dengan karakternya yang menarik. Pada aspek latar siswa sudah dapat menentukan latar yang cocok sesuai dengan situasi dan kondisi dalam cerpen yang ditulisnya. Pada aspek diksi dan gaya bahasa siswa sudah dapat menggunakan kata-kata yang sesuai dengan konteksnya. Pada aspek sudut pandang siswa sudah bisa menggunakan kata ganti untuk menjelaskan tokoh dengan baik. Pada aspek yang terakhir yaitu kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen siswa sudah cukup baik dalam menulis cerpen, terbukti dengan hasil cerpen yang cukup menarik.
 Berdasarkan pada uraian di atas, peningkatan skor rata-rata dari pratindakan ke siklus I yang paling besar yaitu pada aspek yang pertama yaitu tema. Hal ini terjadi karena penentuan tema dalam menulis cerpen dengan media film  yang digunakan sebagai media dalam pembelajaran menulis cerpen. Adapun peningkatan skor rata-rata dari pratindakan ke siklus I yang paling kecil yaitu pada aspek alur, hal ini disebabkan film yang digunakan menggunakan alur campuran.
            Berikutnya, pada hasil tes menulis cerpen siklus II, diperoleh nilai rata-rata
kelas 80,08 dan termasuk dalam kategori baik. Pencapaian skor ini menunjukkan
bahwa pembelajaran menulis cerpen pada siswa kelas IXSMP Negeri 2 Dampit dapat dikatakan berhasil karena  sudah mencapai target yaitu berada  pada kategori baik. Dengan demikian tindakan siklus III, tidak perlu dilakukan.  Perolehan skor aspek tema dan  amanat sebesar 77,50 (termasuk kategori  baik), aspek alur sebesar 78,13 (termasuk kategori baik), aspek tokoh dan  penokohan sebesar 85.00 (termasuk kategori sangat baik), aspek latar sebesar 79,25  (termasuk kategori baik), aspek diksi dan gaya bahasa sebesar 79,00 (termasuk  kategori baik), aspek sudut pandang sebesar 83,75(termasuk kategori baik), dan aspek kepaduan unsur-unsur pembangun cerpen sebesar 78,13 (termasuk kategori baik).
Peningkatan skor rata-rata siklus I ke siklus II yang paling besar yaitu pada aspek tokoh dan penokohan. Hal ini disebabkan karena pada  siklus II ini siswa sudah mulai terbiasa mengungkapkan tokoh dan watak tokoh dengan tajam dan nyata.
Adapun peningkatan skor rata-rata siklus I ke siklus  II yang paling kecil
yaitu pada aspek tema hal ini disebabkan pada siklus I nilai tokoh
dan penokohan sudah berada pada kategori baik, jadi peningkatan pada siklus II
tidak terlalu besar.
            Peningkatan keterampilan siswa dalam menulis cerpen merupakan bukti
bahwa pembelajaran menulis cerpen melalui strategi copy the master dengan media audio visual ini dapat meningkatkan kualitas, kreativitas, prestasi dan efektivitas pembelajaran siswa dalam menulis cerita pendek serta dapat meningkatkan apresiasi sastra siswa khususnya terhadap karya sastra yang berupa cerpen. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif dan kualitatif atas cerpen siswa padan siklus II diketahui bahwa nilai kemampuan menulis cerpen  siswa di atas nilai KKM.Hal ini menunjukkan meningkatnya keterampilan menulis kreatif cerpen siswa.

SIMPULAN DAN SARAN
Proses pembelajaran menulis cerpen menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Dampit setelah mengikuti  pembelajaran ini membuat siswa lebih aktif dan serius dalam kegiatan menulis cerpen. Siswa juga  mengalami perubahan ke arah positif. Perubahan tersebut ditunjukkan dengan perilaku siswa yang  lebih serius dan bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran menulis cerpen.
Keterampilan menulis cerpen siswa kelas X IX SMP Negeri 2 Dampit mengalami peningkatan setelah mengikuti pembelajaran  menulis cerpen melalui menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual.  Hasil rata-rata tes menulis cerpen pratindakan sebesar 67 (hasil pembulatan  ke bawah dari 66,65)  dan pada siklus  I diperoleh hasil rata-rata sebesar 73  (hasil pembulatan ke atas dari 72,88) kemudian pada siklus II diperoleh hasil  rata-rata sebesar 80 (hasil pembulatan ke bawah dari 80,08). Perolehan hasil rata-rata nilai tes menulis cerpen ini menunjukkan bahwa pembelajaran menulis cerpen menggunakan strategi copy the master melalui media audio visual pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Dampit dapat meningkat dan berhasil.
Berdasarkan simpulan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan strategi copy the master melalui media audio visual pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Dampit telah berhasil meningkatkan kemampuan siswa dalam keterampilan menulis kreatif cerpen, maka secara umum disarankan kepada pembaca untuk memanfaatkan media audio visual sebagai salah satu alternatif perbaikan atau peningkatan kemampuan menulis kreatif cerpen siswa yang masih belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal.
DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Pranggawidagda, Suwara. 2002. Strategi Penguasaan Bahasa. Yogyakarta: Adi
Cita. 

Sudjana, Nana dan Achmad Rivai. 2001. Media Pengajaran. Jakarta: Sinar Baru
Algensindo.

Suharianto. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1986.  Apresiasi Kesusastraan. Jakarta:
Gramedia 

Sumardjo, Jacob. 2001. Beberapa  Petunjuk Menulis Cerpen. Bandung: Mitra
Kencana.
           
Widyamartaya, Aloys dan Vero Sudiati. 2005. Kiat Menulis Deskripsi dan Narasi,
Lukisan dan Cerita. Yogyakarta: Pusataka Widyatama.


0 komentar:

Posting Komentar